Rabu, 23 Juni 2010

KALI INI

Kali ini benar-benar sakit
Sakit ketika kau sebut namanya
Sakit ketika kau ceritakan tentangnya
Tentangnya yang pernah mengisi hatimu
Tentangnya yang pasti pernah mewarnai indah harimu
Kali ini sakit
Benar-benar sakit

Kali ini berbeda pilu yang kurasa
Berbeda karena kali ini harapku terlampau jauh
Terlampau jauh karena telah inginkan kamu
Kamu yang tak bisa mengubur sisa cinta lalumu
Yang tentu adalah memori terindah bagimu

Kali ini aku inginku telah benar-benar cekatkan nafasku
Karena cemburuku melihat romantikamu dalam album-albummu
Tentang kisahmu ketika disampingnya
Yang tentu tak semudah membalikkan telapakmu tuk melupakannya

Kali ini benar-benar pilu
Pilu karena aku bukanlah pilihan
Pilu karena memang tak mungkin ada tempat bagiku dihatimu
Walau inginku lebih kokoh daripada ragaku
Sungguh…
Kali ini aku tak sanggup menahan pilu

Kali ini….
Kali ini tangisan
Atau sedu
Ah, aku tak tahu
Yang kutahu “AKU CINTA KAMU”
Aku Sungguh pilu
Teramat pilu

Sabtu, 12 Juni 2010

ASTA JOMBLO TERHORMAT : KETIKA CINTA TAK BERBALAS (CERPEN by ASVYL AHMAD)

Ketika SMA aku memang bukan anak yang menonjol dalam hal percintaan. Semua semata karena prinsip yang kupegang erat kalau aku hanya ingin memiliki pacar ketika aku sudah mapan dan memiliki penghasilan sendiri. Jadi sudah lumrah kalau masa-masa SMA hanya aku lalui tanpa cerita cinta seperti kisah cinta yang kulihat dilayar kaca. Orang hanya mengenal aku sebagai Asta, pria dengan prestasi sekolah lumayan yang membuatku menonjol saat itu.

Semua bermula ketika aku duduk di bangku perkuliahan. Disalah satu perguruan tinggi Islam di kota asalku, Palangka Raya. Bujukan teman-teman yang kala itu menggilai dunia maya agar aku membuat akun di situs jejaring sosial membuatku penasaran dengan hal yang kuanggap baru ini. Bermula dengan chatting hingga akhirnya membuat akun di Friendster, situs jejaring sosial yang saat itu sedang ngetrend dikalangan anak muda penggila dunia maya. Saking gilanya aku dengan situs ini hingga aku yang juga bekerja untuk mengisi waktu luangku memutuskan untuk mengumpulkan sedikit demi sedikit penghasilanku untuk membeli hp yang lumayan canggih dengan fasilitas web browser dengan harapan agar memudahkanku untuk mengakses internet dimana saja.

Awalnya dengan menjadi member di situs ini, aku hanya ingin menambah banyak teman. Hingga akhirnya kutemukan seorang wanita dengan akun bernama Dahlia. Dia masih SMA kala itu. Namun tak kupungkiri, aku merasakan hal yang lain ketika melihatnya. Mungkin itu dinamakan cinta pada pandangan pertama. Rasa cinta yang kutemukan di dunia maya.

Kumulai perkenalan dengannya dengan basa-basi khas anak muda. Menanyakan nama, usia, dan hal-hal lumrah perkenalan lainnya. Semakin lama mengenalnya semakin dalam perasaanku akan gadis ini. Spesial, ya.. dia sangat spesial bagiku. Walau pada akhirnya kutahu bahwa dia sudah memiliki pacar. Namun aku tetap sering berkomunikasi dengannya di dunia elektronik ini. Hanya saja intensitas percakapanku dengannya sengaja ku kurangi karena aku tak ingin ada kesalahpahaman yang akan membuat kekasihnya curiga bahkan salah mengira akan kedekatan kami. Walaupun sejujurnya aku menyukai wanita ini namun aku tak mau mengganggu kebahagiaannya dan dicap menjadi pengganggu keharmonisan hubungan orang lain.

Lama tak saling menyapa pada kolom komentar akhirnya membuat aku kehilangan kontak dengannya. Terlebih ketika situs jejaring sosial facebook mulai merajalela diseluruh dunia, akupun turut terseret arus massa penggila dunia maya yang mulai beralih ke situs ini. Dan hanya sesekali membuka akun Friendsterku yang sudah mulai terlihat sepi. Kalaupun membuka Friendster paling-paling aku hanya posting bulletin yang isinya selalu sama, berbunyi “Hai teman-teman add fb aku ya di asvyl_tata@yahoo.co.id”. Yaa.. hitung-hitung promosi akun facebook ke teman-temanku di Friendster yang jumlahnya cukup banyak, ribuan.

Setahun lamanya asyik bergelut dengan pergaulan facebook membuatku sedikit melupakan Friendster. Terhitung setahun lamanya sudah tidak membuka friendster. Hingga akhirnya timbul niatan dariku untuk melihat kembali akunku di situs jejaring sosial itu. Mengunakan laptopku, begitu ingat kubuka saja situs itu, www.friendster.com. Kumasukkan email address dan paswordku dan…. Muncullah halaman beranda yang begitu kulihat berbeda. Akupun bergumam “wow, lama nggak buka fs ternyata… ck ck ck” banyak sekali perubahan di situs ini. Semua membuatku sedikit bingung menggunakannya. Begitu kulihat link posting bulletin di pojok sebelah kanan refleks saja aku mengkliknya. Kuposting saja disitu “fb: asvyl_tata@yahoo.co.id, twitter: @asvyl dan blog: http://akuasvyl.co.cc/ “… Yaa… hitung-hitung promosi, kutuliskan saja begitu.

Tak lama berselang, terlihat diberanda friendsterku satu pemberitahuan baru. Muncullah rasa penasaran dibenakku. Begitu kubaca, sontak saja aku teriak: ”Wowwww !!!”.. Tak kusangka itu adalah komentar dari Dahlia, orang yang selama ini aku mimpikan karena tutur kata dan kerendahan hatinya. Wanita yang apa adanya, yang tak pernah jaim ketika berhubungan denganku di situs ini. Kubaca saja dengan seksama komentar darinya. Komentar yang berbunyi “Wah kak, lama nggak komen-komenan nich. Apa kabar kak? Masih ingat nggak sama aku?”. Tanpa berpikir panjang kubalas saja komentar itu “Wah nggak mungkin lah kakak lupa sama Dahlia. Oo iya, Kabar kakak baik. Ade sendiri apa kabarnya nich? Iya ya, lama juga kita nggak komen-komenan kayak dulu. Sibuk apa sekarang?”. Begitulah awalnya perbincangan kami, semenjak itu pula aku jadi kembali senang untuk online di Friendster, hanya untuk menyapa dan bertukar komentar dengannya. Wanita yang tak ada keberanianku untuk menemuinya. Bukan karena aku takut, hanya saja aku menyadari kalau aku tak mungkin menemui kekasih orang lain bahkan mengutarakan perasaanku yang sebenarnya.

Beberapa hari setelah percakapan di Friendster itu, kebahagiaan lain muncul. Sebuah permintaan pertemanan terlihat di FBku yang ternyata itu berasal dari Dahlia. Bagai kejatuhan bulan setelah menerima permintaan pertemanan darinya langsung saja gencar kulakukan aksi tanya-tanya lanjutan. Mulai dari menanyakan sekolah hingga hal yang paling membuatku penasaran. Pertanyaan mengenai siapa cowoknya sekarang, apakah masih menjalin hubungan dengan Putra, pacarnya dulu ataukah “Jomblo”seperti yang kuharapkan.

Walau tak mudah kucari jawabnya, pada akhirnya Dahlia-pun mengakui kalau dia telah mengakhiri hubungannya dengan Putra dua bulan lalu. Kuakui muncul bengisku begitu mendengar jawaban itu darinya, walaupun aku sedikit meragukan jawaban darinya yang terkesan bertele-tele dan seperti menyembunyikan sesuatu. Sedikit miris mendengar jawabnya namun tak kusangkal ada rasa bahagia ketika mendengar jawab itu. Bahagia karena kuharap mungkin ada celah dihatinya untuk kutempati, kuisi dengan sejuta cinta yang tak pernah berani terungkap saat itu.

Selepas itu, akupun semakin gencar mendekatinya, kali ini kuberanikan diri untuk meminta nomor hp-nya. Untungnya tak sulit untukku mendapatkan hal yang satu ini. Antara kegirangan dan keluguanku segeralah ku SMS dia, meski hanya sebatas menanyakan: “apa kabar?, lagi ngapain?”, mengajak chatting dan hal-hal lain yang baru kusadari itulah bentuk dari kekakuanku apabila mendekati seorang wanita.

Perjuangan cinta inipun akhirnya berujung pada suatu yang teramat kunanti. Akhirnya aku berhasil juga mengajaknya bertemu, setelah lumayan lama kubujuk dia. Tentu saja kesempatan yang satu ini bukanlah hal yang mudah kudapatkan, perlu perjuangan ekstra untuk menemui wanita seperti dirinya. Wanita cantik dengan tutur kata yang lembut, apa adanya dan sederhana namun sanggup membuatku bertekuk lutut bahkan memimpikannya disetiap malamku. Angin segar ini membuatku begitu kegirangan, yang bahkan ingin rasanya kulompati jarak waktu agar segera dapat kutemui hari itu, hari pertemuanku dengan dirinya, wanita yang kucintai.


Direlung hatiku terukir namamu
Walau kau tak pernah tahu
Disudut hatiku masih tertulis namamu
Walau engkau tak cinta aku
Di benakku hanya ada kamu
Dalam dekap cinta untukmu
Direlung sukmaku tersimpan bayangmu
Yang tak lekang oleh waktu
Karena aku, cintaku, hingga akhir waktu



Hari itu Minggu, 26 Juli 2009. Hari yang begitu kunanti. Semua kurasa cerah pagi itu. Suasana dunia, ragaku bahkan hatiku, semua bak menyambut hari pertemuan ini. Pukul 10 pagi tepat hpku berdering. Akhirnya telpon yang kunanti-nanti datang juga. Dahlia yang menelpon, sesuai janji dia memintaku untuk menjemputnya di SMA tempatnya menuntut ilmu. Dahlia usai mengikuti acara Ulang tahun sekolahnya pagi itu. Bersegera kutancap laju sepeda motorku menjemputnya “semoga kebahagiaanlah ini yang kuhampiri… Bismillah” begitu ucapku ketika hampir kudekati sekolahnya. Jantungku lumayan berdegup kencang ketika motorku berhenti tepat di depan gerbang sekolahnya, salah satu SMA Favorit dikotaku.

Kulihat saja seorang wanita mengenakan kaos oblong putih lengan panjang menghampiriku. Wanita dengan rambut panjang bergelombang yang tentu sudah tak asing dimataku. “Subhanallah” ucapku dalam hati “parasnya sungguh cantik persis seperti foto-fotonya yang selama ini begitu mengganggu malam dan tidurku”. Dialah Dahlia, dahlia yang selama ini aku idam-idamkan kini berada tepat dihadapanku. Kusapa saja dia “Udah lama ya nungguin Asta??”, dia menjawab “barusan kok, wahh ternyata wajahnya sama ya kayak di facebook… jangan kecewa ya abis ngelihat Dahlia”. “Subhanallah, begitu rendah hatinya wanita ini” pikirku.

Kubonceng Dahlia dengan sepeda motorku. Kutancapkan perlahan agar dapat berbicara lebih jauh dengannya. Tentu saja dengan niatan agar aku lebih kenal dekat dengannya secara langsung, tidak hanya melalui dunia maya yang fana, yang entah mengapa dinamakan internet.

Ku akui jantungku lumayan berdebar kala itu, namun kuberanikan saja berbincang dengannya dalam perjalanan menuju ke Mall. Sesampainya disana, Ku ajak dia makan siang di salah satu cafe di mall itu. Tempat yang biasa aku kunjungi bersama sahabat-sahabatku di “The Bunciters”, genk para pemuda anti kriminil yang sudah ada dan eksis semenjak aku duduk di bangku kelas 3 Sekolah Dasar. Genk dari aku dan teman-teman seperjuanganku yang dahulu memang tidak memiliki nama. Nama The Bunciters-pun baru muncul baru-baru ini karena setelah lumayan lama kami tidak berjumpa, tak disangka hampir semua dari kami memiliki perut yang kurang indah, bisa dikatakan “onepack” alias buncit. Mungkin inilah kutukan karena kebiasaan kami sewaktu kecil yang suka nyolong jambu dari pohon tetangga. {^_^}

Suasana di café itu memang sangat mendukung usahaku ini. Usahaku agar dapat menjadi pengganti kekasih hati Dahlia yang dulu, yang telah meninggalkannya seperti yang telah diceritakannya kepadaku. Lagu dari salah satu band idolaku mengiringi perbincangan kami di café itu. Membuat suasana pertemuan ini menjadi hangat.
Masih kuingat dengan jelas apa yang diucapkan Dahlia begitu sampainya di café itu “wah, coba tadi kakak kuajak keacara ultah sekolahku ya? Tadi Dahlia ikut lomba menyanyi kak,. Jangan diketawain ya?”. Akupun sontak tersenyum “Oh gak apa-apa kok, yang penting Dahlia udah berani tampil di depan teman-teman. Sukses nggak tadi lombanya?” tanyaku “lumayan kak, tapi tadi suara Dahlia hampir habis gara-gara kecapean” jawabnya.

Sambil menikmati makan siang, percakapan itupun terus berlanjut hingga akupun tak lagi merasa canggung dengan gadis ini. Dahlia memang sosok yang bersahaja, ramah dan smart. Entah apa kata yang dapat melukiskan perasaanku akan gadis ini. Senyumnya, tatap matanya membuatku seakan terbang. Ingin rasanya memiliki indah hatinya, menjadikan dia cahaya jiwa yang sunyi, surga dunia dalam kehidupan ini sebagai kekasih hati. Baru kali ini aku terbuai cinta yang sangat dalam. Terbuai cinta sang gadis SMA berparas cantik bernama Dahlia ini.

Tak putus sampai disitu, kembali kuajak dia jalan-jalan ke salah satu tempat wisata alam dikotaku yang hanya berjarak 20 menit dari mall itu. Disinilah nyali pejuangku diuji, kuberanikan diri mengungkapkan perasaanku kepadanya. Hendak kuucap kata itu namun tiba-tiba terdengarlah bunyi telepon genggam yang tak lain dan tak bukan adalah handphone milik Dahlia. “Bentar ya kak, ada sms” tukasnya. Dibacanya sms itu hingga tiba-tiba terpana kulihat raut wajahnya yang kini berbeda, matanya berkaca-kaca bak memendam rasa rindu yang begitu dalam. Kutanyakan kenapa, namun tak sepatah kata terucap dari bibirnya. Di tunjukkannya isi dari sms itu kepadaku. Sms yang ternyata dari Putra, pria yang kutahu sebagai mantan darinya.

SMS itu intinya adalah ucapan maaf dari Putra, mantannya yang pernah diceritakannya kepadaku di facebook bahkan nama itu sering diucapkannya ketika aku meneleponnya. Aku yang telah terlena keadaan yang kuanggap menguntungkan ini menjadi lunglai tak berdaya menahan rasa. Antara cemburu, ragu, dan hancur. Namun kutahankan saja. Aku tak mau pertemuan ini berakhir dengan kesan buruk. Kesan buruk karena kecemburuan dan prilakuku yang mungkin saja terbawa oleh kegalauan suasana hatiku.

Terputus sampai disitu ucapku karena tak berani kuutarakan rasa dengan suasana yang tiba-tiba mengharu biru seperti ini. Suasana yang akupun bingung menjelaskannya. Teringat sejenak dengan ucapnya yang menjelaskan kepadaku tentang statusnya saat ini. Namun muncul kebingunganku ketika kusaksikan kesedihan seperti ini.

“Kamu masih cinta sama mantanmu?” kutanya. Dahlia diam, kali ini ditutupnya dua bola matanya dengan kedua telapak indahnya. Kulihat dari celah-celah jarinya sepasang mata merah nanar berkaca. “apa tanyaku salah?” pikirku. Kurang lebih tiga puluh menit suasana diam ini berjelan. Hingga diucapkannya sebuah kata “kita pulang aja kak !”, “iya” jawabku.

Begitupula ketika kubonceng dia menuju rumahnya. Tetap tak ada satupun kata terucap. Akupun tak berani menalarkan tanya yang sebenarnya ingin kuucap sejak tadi. Kuantar dia hingga tepat didepan rumahnya. Kulihat rumahnya tampak sepi, langsung saja aku pamit pulang, “Hati-hati kak” imbuhnya.

Sesampainya dirumah kegelisahan, kehampaan, dan beribu tanya selalu hadir menggangguku, yang terbayang hanya Dahlia dan Dahlia. Mengapa dia? Ada apa dengannya? Mengapa seperti ini? Dan apakah kalimat “sudah tak ada rasa cinta” yang pernah diutarakannya padaku untuk melukiskan keadaannya dan mantannya itu hanya tuk mengalihkan kesedihannya saja.

Tiga hari kulalui dalam pilu. Aku bagai berada pada nadir hidupku. Tak ada sms bahkan telepon dari Dahlia seperti biasanya. Akupun begitu, hanya kupandangi handphone dan laptopku tanpa ada daya untuk menelepon, sms, bahkan membuka akun facebook-ku. Kala itu yang terpikir hanya perasaanku bahwa aku akan kehilangan dia jika aku menghubunginya. Namun, tanya besar kepalaku akhirnya memberiku keberanian untuk meneleponnya tepat dihari keempat setelah pertemuan itu.

Ditelepon itulah kuketahui yang sebenarnya. Diceritakannya kepadaku hubungannya dengan Putra kepadaku. Terkorek sebuah hal yang terus terang membuatku down dan merasa bersalah. Dahlia menjelaskan kepadaku bahwa sebenarnya hubungannya dengan Putra belumlah berakhir. Mereka bertengkar hebat tatkala dulu dikatakannya kepadaku kalau dia dan putra sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi. Terus terang sebenarnya aku sempat merasa dibohongi. Tak kutahu keadaan yang sebenarnya karena memang kusangka ucap itu benar adanya. Teramat sakit namun inilah adanya. Aku tak bisa memaksakan cinta yang kurasa dan tak akan pernah bisa mencintai jika ada seseorang nantinya yang akan tersakiti.

Dijelaskannya pula kepadaku kalau dirinya dan Putra kini telah baikan. Kuucap selamat walau memang berat terucap karena tertahan keinginan besar. Namun masih ada sisa kebesaran hatiku hingga bisa terucap kata itu “Selamat ya Dahlia, kakak harap kamu langgeng dengannya dan kakak yakin dia adalah lelaki yang terbaik bagimu”. Itulah kata yang terakhir kusampaikan kepadanya. Kata indah yang kuucapkan dalam kondisiku yang benar-benar terluka dalam karena cinta.

Hari-demi hari kulalui dengan masih menyimpan pilu. Entah berapa banyak lamunan yang telah kulakukan dalam malam-malam sepiku. Entah berapa banyak suntikan semangat kuterima dari sahabat-sahabatku. Semua itu seakan memberi energi hati yang benar-benar membeku karena cinta itu, seakan memberi nadi raga yang lunglai karena tangis yang mencekat nafas.


Seperti aku
Tanpa ada kamu
Detak seakan tak ada
Hilang jiwa terbawa

Aku didalam lingkaranmu
Aku didalam langkahmu
Aku yang inginkan kamu
Sejak pertama hadirmu dihidupku

Jujur kukatakan
Inginku didekapmu
Dipelukmu hingga habis masa
Selamanya dalam cinta

Tapi cinta tetap tak bisa dipaksa
Selayaknya hidup yang harus memilih
Begitupula engkau yang telah memilih
Bahwa aku bukanlah pilihan
Aku rela
Karena cintaku begini adanya



Dua bulan sudah tak terasa. Tak tersentuh facebook-ku dalam masa-masa nadir itu. Telah berkurang kini kesedihanku. Aku ingat betul kala itu akhir September. Timbul niatan lagi dariku untuk membuka akun facebook-ku. Ketika kubuka akun itu kudapati kenyataan baru kalau aku dan Dahlia sudah tidak menjadi teman lagi di facebook. Sebuah pesan terbaca di inbox FB-ku, pesan yang dikirim dari akun FB Dahlia kurang lebih sebulan lalu bertuliskan “Maaf kak, pacarku yang menghapus FB kakak dari akunku. Sekali lagi maaf ya kak”. Kuhela nafasku dalam ketika membaca pesan ini. Sengaja tak kubalas karena aku memang tak ingin memperpanjang ini semua. Kenyataan ini memang menyesakkan dada namun harus kuterima dengan lapang dada karena memang begini adanya.

Kini telah setahun lamanya kisah ini berlalu. Jujur hal ini bukanlah hal yang mudah dilupakan. Karena sampai saat inipun terkadang muncul bayang wajahnya di ingatanku. Tak kusesali keadaan ini. tak kusesali rasa ini, dan tak kusesali tanya orang. Jujur banyak yang bertanya kepadaku, mengapa aku betah saja hidup menjomblo. Kujawab dengan senyuman saja semua tanya itu karena inilah jalanku. Entah berapa orang wanita telah mengutarakan perasaan cintanya kepadaku. Semua kutolak, bukan karena aku bodoh. Namun inilah jalanku, hanya akan mencintai seseorang yang memang benar-benar kucintai dan tak akan menjadikan wanita sebagai pelampiasan semua kegagalanku.

===THE END===

Selasa, 08 Juni 2010

Semua Sirna

Langkah terhenti, semua sirna seketika
Harapan itu, mimpi itu hilang bersama sebuah kata yg kau ucap
Padahal rasa cinta terbentang pada nadir hidupku
Biarlah...
Semua kupasrahkan

Tak ada yang pasti kali ini
Pengharapan telah terlepas
Namun hati tlah berbesar tuk relakan
Bahagiamu, bahagiaku juga
Walau sakit perasaan
Kucoba menahan
Trus bertahan....

Menatap bintang
dimensiku sendiri hilang
sedikit terluka
semoga hilang dalam tafakkur ini
Kadang berpikir ikhlaskah sudah
Padahal airmata basahi pelupuk mata

Barangkali memang rapuh diri ini
Rapuh karena inginku yang berlebihan
atas suatu hal yang tak mungkin kurengkuh
Namun ini cintaku
Kadang menggila

Ah biarlah
Kuterima saja semua
Inilah suratan
Pada lingkaran roda
Hidupku tak mungkin milikimu
Namun kubahagia bisa mencintamu

Minggu, 06 Juni 2010

Ternyata Aku Salah

Ternyata aku salah memahami cinta
Cinta kita bukan abadi
karena jiwapun tak abadi
Cinta bukan dikejar tuk dimiliki
namun kerelaan tuk membiarkan pergi
Membiarkan pergi separuh hati
Mencari pertanda perekat jiwa yang pasti
Cinta tak mesti harus memiliki

Ternyata aku salah
Salah memahami cinta
yang selama ini kuanggap religi
namun ternyata menyimpan sejuta elegi
ternyata salah

Realistis saja
Cinta bukan abadi
Cinta bukan hakiki
Teater alam memberi bukti
Jangan tanya lagi

Ternyata
Inilah yang nyata
tak ada yang abadi didunia ini
Begitu pula cinta ini
Cinta ini bukan abadi

Penelusuran Blog/ Website